BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Wirausaha adalah seseorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya system ekonomi perusahaaan yang bebas. Karir kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat, menghasilkan imbalan financial yang nyata. Wirausaha di berbagai industry membantu perekonomian dengan menyediakan pekerjaan dan memproduksi barang dan jasa bagi konsumen dalam negeri maupun di luar negeri. Meskipun perusahaan raksasa menarik perhatian banyak publik akan tetapi bisnis kecil dan kegiatan kewirauasahaannya setidaknya memberikan andil nyata bagi kehidupan sosial dan perekonomian dunia
Pada awal berdirinya usaha, diperlukan suatu acuan atau rencana agar usaha tersebut dapat berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Perencanaan usaha atau business plan adalah suatu dokumen yang menyatakan keyakinan akan kemampuan sebuah bisnis untuk menjual barang atau jasa dengan menghasilkan keuntungan yang memuaskan dan menarik bagi penyandang dana.
Jadi business plan adalah dokumen tertulis yang disiapkan oleh wirausaha yang menggambarkan semua unsur yang relevan baik internal mapupun eksternal mengenai suatu perusahaan untuk memulai usahanya. Business plan dibuat untuk jangka panjang ataupun jangka pendek. Perincian business plan tergantung pada perusahaan yang akan memulai operasinya. Sehingga pihak penyedia dana akan tertarik untuk ikut serta dalam usaha tersebut.
Jadi business plan adalah dokumen tertulis yang disiapkan oleh wirausaha yang menggambarkan semua unsur yang relevan baik internal mapupun eksternal mengenai suatu perusahaan untuk memulai usahanya. Business plan dibuat untuk jangka panjang ataupun jangka pendek. Perincian business plan tergantung pada perusahaan yang akan memulai operasinya. Sehingga pihak penyedia dana akan tertarik untuk ikut serta dalam usaha tersebut.
Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan, adalah pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum yang terintegrasi yang dikembangkan di sekolah. Tulisan ini mencoba menawarkan suatu model pendidikan yang berwawasan kewirausahaan untuk tingkat pra sekolah dan sekolah dasar. Dengan model ini jika diterapkan diharap dunia pendidikan ikut memberikan kontribusi nyata dalam rangka peningkatan mutu SDM diIndonesia. Kerangka pengembangan kewirausahaan di kalangan tenaga pendidik dirasakan sangat penting. Karena pendidik adalah ‘agent of change’ yang diharapkan mampu menanamkan ciri-ciri, sifat dan watak serta jiwa kewirausahaan atau jiwa ‘entrepreneur’ bagi peserta didiknya. Disamping itu jiwa ‘entrepreneur’ juga sangat diperlukan bagi seorang pendidik, karena melalui jiwa ini, para pendidik akan memiliki orientasi kerja yang lebih efisien, kreatif, inovatif, produktif serta mandir
1. 2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1) Apa pengertian perencanaan usaha serta tujuannya.
2) Bagaimana strategi menyusun proposal bisnis yang efektif.
3) Kerangka Berpikir Tentang Kewirausahaan
4) Life Skill Sebagai Unsur Dalam Bidang Kewirausahaan
5) Membangun Etos Kerja Kewirausahaan
1. 3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah:
a. Untuk mengetahui pengertian perencanaan Wirasuasta serta tujuannya.
b. Mengetahui bagaimana strategi berwirausaha yang efektif.
BAB II
PEMBAHASAN
2. 1 Perencanaan Wirausaha
A. Mengenal Peluang
Menangkap peluang artinya bagaimana kita berpikir secara kreatif dan inovatif untuk menciptakan atau meraih suatu kesempatan bisnis dimana tidak ada orang atau hanya sebagian kecil orang yang dapat melakukan.
Langkah-langkah untuk mendapatkan peluang:
a. Mempersiapkan daftar peluang usaha
b. Teknik menggali gagasan usaha
c. Menetapkan sasaran peluang terbaik
d. Beberapa pertanyaan sebelum memulai bisnis
B. Menyusun Perencanaan Usaha
Untuk mencapai keuntungan pemilik usaha harus merencanakan suatu strategi menyeluruh bagaimana cara melaksanakan tugas-tugas usaha.
Ada beberapa unsur yang harus ada dalam perencanaan usaha, yaitu
Ringkasan pelaksanaan,
1) Profil usaha,
2) Strategi usaha,
3) Produk dan jasa,
4) Strategi pemasaran,
5) Analisis pesaing,
6) Ringkasan karyawan dan pemilik,
7) Rencana operasional,
8) Data financial,
9) Proposal/usulan pinjaman,
10) Jadwal operasional (zimmerer, 1993).
menurut lambing (2000) perencanaan usaha memuat sejumlah topic yaitu:
1) Ringkasan eksekutif,
2) Pernyataan misi,
3) Lingkungan usaha,
4) Perencanaan pemasaran,
5) Tim manajemen,
6) Data financial,
7) Aspek-aspek legal,
8) Jaminan asuransi,
9) Orang-orang penting,
10) Pemasok,
11) Risiko
Ada 6 hal pokok yang perlu dirumuskan dalam merencanakan usaha yaitu:
1) Kegiatan apa yang dilakukan untuk menjalankan usaha guna mencapai keuntungan?
2) Apa sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan?
3) Dimana tindakan itu harus dilakukan?
4) Kapan tindakan itu harus dilakukan?
5) Siapa yang akan mengerjakan?
6) Bagaimana cara melakukannya?
Tujuan perencanaan usaha ini adalah untuk:
1) Mengantisipasi ketidakpastian dan perubahan yang mungkin terjadi masa yang akan datang
2) Agar semua perhatian dan aktifitas terpusat pada usaha
3) Memastikan bahwa proses pencapaian tujuan berlangsung ekonomis
4) Memudahkan pengawasan
5) Sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan
Wujud dari perencanaan usaha adalah proposal kegiatan usaha (busnes plan). Proposal usaha merupakan media komunikasi bisnis seorang wirausaha dengan pihak lain untuk mendapatkan dukungan terhadap usaha yang akan dikelola. Dalam proposal bisns ini wirausaha menuangkan profil bisnis yang akan dikembangkannya. Pada proposal wirausahawan merefleksikan gambaran perusahaan yang dkembangkan. Oleh karenanya, proposal bisnis harusrasional, tidak sekadar menyalin proposal bisnis lainnya.
2.2 Strategi Menyusun Proposal Bisnis yang Efektif
A. Pengertian proposal Bisnis
Proposal bisns merupakan dokumen tertulis yang rinci mengenai usaha baru yang tengah direncanakan. Setiap aspek dalam uasaha tersebut perlu dideskripsikan mulai dari proyek yang akan dilakukan, pemasarannya, penelitian dan pengembangan, masalah pbrik, manajemen, risiko yang akan dihadapi, masalah finansial, sampai masalah penjadwalan waktu.
Proposal bisnis berisikan deskripsi dari proyek yang akan dilakukan, pemasarannya, penelitian dan pengembangan, masalah pabrik, manajemen, resiko yang akan dihadapi, masalah finansial, sampai masalah perjadwalan waktu.
Ada 4 (empat) faktor kritis yang perlu diperhatikan dalam menyusun proposal bisnis yaitu:
Ada 4 (empat) faktor kritis yang perlu diperhatikan dalam menyusun proposal bisnis yaitu:
1) Tujuan yang realistis, artinya tujuan yang ingin dicapai harus spesifik, dapat diukur, dan ada kesatuan diantara waktu dan parameternya.
2) Komitmen, artinya bisnis perlu mendapatkan dukungandari seluruh pihak yang terlibat, baik itu dari pihak keluarga, mitra bisnis, karyawan atau anggota tim.
3) Batasan waktu, artinya sub-sub tujuan harus dibuat secara berkesinambungan dan ada evaluasi waktu atas kenajuan-kemajuan yang dicapai.
4) Fleksibilitas, artinya bisnis harus dapat diantisipasi akan memungkinkan munculnya alternatif strategi yang dapat diformulasikan
B. Manfaat Proposal Usaha
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh seorang wirausaha dengan adanya rencana yang dituangkan dalam proposal bisnis yaitu:
1) Memberikan gambaran bahwa wirausaha disiplin, berpikir kritis dan obyektif atas bidang usaha yang akan dimasukinya.
2) Analisis persaingan, faktor ekonomi, dan analisis finansial yang ada dalam proposal bisnis dapat mendekati seberapa besar tingkat keberhasilan usaha yang akan dijalankan.
3) Membantu wirausaha untuk mengembangkan dan menguji strategi dan hasil yang diharapkan dari sudut pandang pihak lain.
4) Berguna untuk membandingkan antara prakiraan dengan hasil yang nyata, karena proposal bisnis men gukur tujuan dan rencana bisnis.
Menjadi alat komunikasi bagi wirausaha untuk memaparkan dan menyakinkan gagasannya kepada pihak lain secara menyeluruh.
Menjadi alat komunikasi bagi wirausaha untuk memaparkan dan menyakinkan gagasannya kepada pihak lain secara menyeluruh.
5) Memberikan informasi mengenai potensi pasar dan perkiraan market share yang mungkin diraih.
6) Keseluruhan prospek finansial dan ilustrasi rencana bisnis dari usaha memberi gambaran akan kemampuan wirausaha untuk memenuhi kewajiban/utang.
7) Dapat mengidentifikasi adanya resiko kritis yang mungkin terjadi sehingga dapat mengantisipasinya.
8) Memberikan informasi mengenai sumber finansial yang jelas.
9) Proposal bisnis dapat menjadi sebuiah gambaran awal seberapa jauh
10) kemampuan manajerial seorang wirausaha.
2.3 Kerangka Berpikir Tentang Kewirausahaan
Sejalan dengan pendapat di atas, Salim Siagian (1999) mendefinisikan:
“Kewirausahaan adalah semangat, perilaku, dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada:
A. Pola tanggapan
- Karakteristik perorangan
- Karakteristik Kelompok Sosial
B. Pola peluang
- Kebutuhan ekonomi
- Kemajuan teknologi
C. Perilaku wirausaha
- Mendirikan
- Mengelola
- Mengembangkan
- Melembagakan hasil usaha
D. Perusahaan:
- Tepat guna
- Hemat usaha
- Unggul mutu
- Pembaharu
pelanggan/masyarakat; dengan selalu berusaha mencari dan melayani langganan lebih banyak dan lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas dan inovasi serta kemampuan manajemen.”
Pengertian di atas mencakup esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu juga menampung wirausaha yang pengusaha, yang mengejar keuntungan secara etis serta wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan/ masyarakat. Semangat, perilaku dan kemampuan wirausaha tentunya bervariasi satu sama lain dan atas dasar itu wirausaha dikelompokkan menjadi tiga tingkatan yaitu: Wirausaha andal, Wirausaha tangguh, Wirausaha unggul.
Wirausaha yang perilaku dan kemampuannya lebih menonjol dalam memobilisasi sumber daya dan dana, serta mentransformasikannya menjadi output dan memasarkannya secara efisien lazim disebut Administrative Entrepreneur. Sebaliknya, wirausaha yang perilaku dan kemampuannya menonjol dalam kreativitas, inovasi serta mengantisipasi dan menghadapi resiko lazim disebut Innovative Entrepreneur. Menjadi wirausaha profesional harus memenuhi kriteria ketangguhan dan ketangguhan. Adapun ciri dari kedua kriteria tersebut adalah sebagai berikut:
2.3.1 Ciri dan Kemampuan Wirausaha Tangguh
Berpikir dan bertindak strategik, adaptif terhadap perubahan dalam berusaha
- mencari peluang keuntungan termasuk yang mengandung resiko agak besar dan dalam mengatasi masalah.
- Selalu berusaha untuk mendapat keuntungan melalui berbagai keunggulan dalam memuaskan langganan.
- Berusaha mengenal dan mengendalikan kekuatan dan kelemahan perusahaan (dan pengusahanya) serta meningkatkan kemampuan dengan system pengendalian intern.
- Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan ketangguhan perusahaan terutama dengan pembinaan motivasi dan semangat kerja serta pemupukan permodalan.
2.3.2 Ciri dan Kemampuan Wirausaha Unggul
- Berani mengambil resiko serta mampu memperhitungkan dan berusaha menghindarinya.
- Selalu berupaya mencapai dan menghasilkan karya bakti yang lebih baik untuk langganan, pemilik, pemasok, tenaga kerja, masyarakat, bangsa dan negara.
- Antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan.
- Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar dan meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
- Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi di berbagai bidang.
Sementara itu dalam suatu penelitian tentang Standarisasi Tes Potensi Kewirausahaan Pemuda Versi Indonesia; Munawir Yusuf (1999) menemukan danya 11 ciri atau indikator kewirausahaan, yaitu:
1. Motivasi berprestasi
2. Kemandirian
3. Kreativitas
4. Pengambilan resiko (sedang)
5. Keuletan
6. Orientasi masa depan
7. Komunikatif dan reflektif
8. Kepemimpinan
9. Locus of Contro
10. Perilaku instrumental
11. Penghargaan terhadap uang
Sementara itu menurut G. Meredith, et.al (1996) mengemukakan bahwa: Para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan yang ada; mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses.
Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan, dan bermotivasi tinggi yang mengambil risiko dalam mengerjar tujuannya. Daftar ciri-ciri dan sifat-sifat berikut memberikan sebuah profil dari wirausaha:
Ciri-ciri
- Percaya diri
- Berorientasikan tugas dan hasil
- Pengambil risiko
W a t a k
- Keyakinan
- Ketidaktergantungan, individualitas
- optimisme
- Kebutuhan akan prestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energitic, dan inisiatif.
- Kemampuan mengambil risiko, suka pada tantangan.
- Kepemimpinan
- Keorisinilan
- Berorientasi ke masa depan
- Bertingkah laku sebagai pemimpin
- Dapat bergaul dengan orang lain.
- Menanggapi saran-saran dankritik
- Inovatif dan kreatif
- Fleksibel
- Punya banyak sumber
- Serba bisa, mengetahui banyak
- Pandangan ke depan
- Perseptif
2.4 Life Skill Sebagai Unsur Dalam Bidang Kewirausahaan
2.4.1 Pengertian life skill
Dalam kehidupan keseharian, manusia akan selalu dihadapkan problema hidup yang harus dipecahkan dengan menggunakan berbagai sarana dan situasi yang dapat dimanfaatkan. Kemampuan seperti itulah yang merupakan salah satu inti kecakapan hidup (life skill). Artinya kecakapan yang selalu diperlukan oleh seseorang di manapun ia berada, baik yang berstatus peserta didik, pekerja, guru, pedagang, maupun orangtua. Pengertian life skill adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.
2.4.2. Ruang Lingkup life skill
Kecakapan hidup (life skill) dapat dipilah menjadi lima bagian, ialah kecakapan mengenal diri (self awarness), kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), dan kecakapan vokasional (vocational skill).
Kecakapan mengenal diri (self awareness) atau kecakapan personal (personal skill), adalah kecakapan yang diperlukan bagi seseorang untuk mengenal dirinya secara utuh. Kecakapan ini mencakup :
1. Penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan
2. Penghayatan diri sebagai anggota keluarga dan masyarakat
3. Penghayatan diri sebagai warga negara
4. Menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan diri
5. Menjadikan kelebihan dan kekurangan sebagai modal dalam meningkatkan diri agar bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
Kecakapan berpikir rasional (thinking skill) adalah kecakapan yang diperlukan dalam pengembangan potensi berpikir, mencakup :
a) kecakapan menggali dan menemukan informasi (information searching)
b) kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (information
c) processing and decision making skills)
d) kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem
e) solving skill)
Kecakapan sosial ataukecakapan interpersonal (social skill) mencakup :
a) kecakapan komunikasi dengan empati (communication skill). Empati,
b) sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan,
c) karena yang dimaksud berkomunikasi bukan sekedar menyampaikan
d) pesan, tetapiisi dan sampainya pesan, disertai dengan ‘kesan’baik, akan
e) menumbuhkan hubungan yang harmonis.
f) kecakapan bekerjasama
Kecakapan akademik (academic skill) ataukemampuan berpikir ilmiah,
mencakup komponen-komponen :
a) kemampuan melakukan identifikasi variabel
b) kemampuan merumuskan hipotesis
c) kemampuan melakukan penelitian
Kecakapan vokasional (vocational skill), adalah keterampilan yang dikaitkan dengan berbagai bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.
Secara sederhana dapat dibuat skema pembagian kecakapan hidup yang perlu ditanamkan kepada peserta didik, sebagai berikut :
a) Self Awarness
b) Thinking Skill (General Life Skill)
c) Social Skill (Life Skill)
d) Academic Skill (Specific Life Skill)
e) Vocational Skill
2.5. Membangun Etos Kerja Kewirausahaan
1. Produktivitas dan Motivasi
Menurut Teori Herzberg, ada dua faktor motivasi, yaitu Salah satu sumber bala yang menimbulkan bencana nasional akhir-akhir ini adalah karena tidak dimilikinya etos kerja yang memadai bagi bangsa kita. Belajar dari negara lain, Jerman dan Jepang yang luluh lantak di PD II. Tetapi kini, lima puluh tahun kemudian, mereka menjadi bangsa termaju di Eropa dan Asia. Mengapa? Karena etos kerja mereka tidak ikut hancur. Yang hancur hanya gedung-gedung, jalan, dan infrastruktur fisik.
Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati “bushido” (etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang disebut oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”.
Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah : (1) Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah,
1. Faktor “Pendorong”
2. Faktor “Pemelihara”
- Kebersihan
- Pengakuan
- Kreativitas
- Tanggung Jawab
- Lingkungan kerja
- Insentif kerja
- Hubungan Kerja
- Keselamatan kerja
terhormat, (2) Yu : berani, ksatria, (3) Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama, (4) Re : bersikap santun, bertindak benar, (5) Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh-sungguhnya, tanpa pamrih, (6) Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan, dan (7) Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas. Indonesia mempunyai falsafah Pancasila, tetapi gagal menjadi etos kerja bangsa kita karena masyarakat tidak komit, tidak inten, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menerapkan prinsip-prinsip
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Maaf cakap “Ketuhanan Yang Maha Esa” misalnya, sering ditampilkan sebagai “Keuangan yang maha kuasa”. Kemanusiaan yang adil dan beradab, diterapkan menjadi “Kekuasaan menentukan apa yang adil dan siapa yang beradab”, “Persatuan Indonesia” prakteknya menjadi “persatuan pejabat dan konglemerat” dsb. Inilah bukti dari ramalan Ronggowarsito dan inilah zaman edan. Dampak kondisi ini etos kerja yang berkembang adalah etos kerja asal-asalan. Beberapa pernyataan berikut adalah gambaran ungkapan yang sering muncul ke permukaan yang menggambarkan etos kerja asal-asalan, atau istilah Sinamo (1999) sebagai “etos kerja edan”, ialah : (1) bekerjalah sesuai keinginan penguasa, (2) bekerja sebisanya saja, (3) bekerja jangan sok suci, kerja adalah demi uang, (4) bekerja seadanya saja nggak usah ngoyo, tak lari gunung dikejar, (5) bekerja harus pinter-pinter, yang penting aman, (6) bekerja santai saja mengapa harus ngotot, (7) bekerja asal-asalan saja, wajar-wajar saja, kan gajinya kecil, (8) bekerja semau gue, kan di sini saya yang berkuasa. Ungkapan-ungkapan
seperti tersebut di atas menggambarkan tidak adanya etos kerja yang pantas untuk dikembangkan apalagi menghadapi persaingan global. Maka dari itu wajarlah jika bangsa ini harus menerima pil pahit bencana nasional krisis yang berkepanjangan yang tak kunjung usai.
Untuk mencapai kualifikasi Wirausaha Unggul maka SDM Perusahaan harus memiliki Etos Kerja Unggul. Jansen H. Sinamo (1999) mengembangkan 8 Etos Kerja Unggulan sebagai berikut :
1. Kerja itu suci, kerja adalah panggilanku, aku sanggup bekerja benar.
Suci berarti diabdikan, diuntukkan atau diorientasikan pada Yang Suci. Penghayatan kerja semacam ini hanya mungkin terjadi jika seseorang merasa terpanggil. Bukan harus dari Tuhan, tapi bisa juga dari idealisme, kebenaran, keadilan, dsb. Dengan kesadaran bahwa kerja adalah sebuah panggilan suci, terbitlah perasaan untuk melakukannya secara benar.
2. Kerja itu sehat, kerja adalah aktualisasiku, aku sanggup bekerja keras :
Maksudnya adalah bekerja membuat tubuh, roh dan jiwa menjadi sehat. Aktualisasi berarti mengubah potensi menjadi kenyataan. Aktualisasi atau penggalian potensi ini terlaksana melalui pekerjaan, karena kerja adalah pengerahan energi bio-psiko-sosial. Akibatnya kita menjadi kuat, sehat lahir batin. Maka agar menjadi maksimal, kita akan sanggup bekerja keras, bukan kerja asal-asalan atau setengah setengah.
3. Kerja itu rahmat, kerja adalah terimakasihku, aku sanggup bekerja tulus :
Rahmat adalah karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Respon yang tepat adalah bersyukur dan berterima kasih. Ada dua keuntungan dari bekerja sebagai rahmat, (1) Tuhan memelihara kita, dan (2) disamping secara finansial kita mendapat upah, juga ada kesempatan belajar, menjalin relasi sosial, dsb. Pemahaman demikian akan mendorong orang untuk bekerja secara tulus.
4. Kerja itu amanah, kerja adalah tanggung jawabku, aku sanggup bekerja tuntas
Melalui kerja kita menerima amanah. Sebagai pemegang amanah, kita dipercaya, berkompeten dan wajib melaksanakannya sampai selesai. Jika terbukti mampu, akhlak terpercaya dan tanggung jawab akan makin menguat. Di pihak lain hal ini akan menjadi jaminan sukses pelaksanaan amanah yang akan menguklir prestasi kerja dan penghargaan. Maka tidak ada pekerjaan yang tidak tuntas.
5. Kerja itu seni/permainan, kerja adalah kesukaanku, aku sanggup bekerja kreatif :
Apapun yang anda kerjakan pasti ada unsur keindahan, keteraturan, harmoni, artistic seperti halnya seni. Untuk mencapai tingkat penghayatan seperti itu dibutuhkan suatu kreativitas untuk mengembangkan dan menyelesaikan setiap masalah pekerjaan. Jadi bekerja bukan hanya mencari uang, tetapi lebih pada mengaktualisasikan potensi kreatif untuk mencapai kepuasan seperti halnya pekerjaan seni.
6. Kerja itu ibadah, kerja adalah pengabdianku, aku sanggup bekerja serius :
Tuhan mewajibkan manusia beribadah (dalam arti ritual) dan beribadah (dalam artian kerja yang diabdikan pada Tuhan). Kerja merupakan lapangan konkrit melaksanakan kebajikan seperti: untuk pembangunan bangsa, untuk kemakmuran, untuk demokrasi, keadilan, mengatasi kemiskinan, memajukan agama, dsb. Jadi bekerja harus serius dan sungguh-sungguh agar makna ibadah dapat teraktualisasikan secara nyata sebagai bentuk pengabdian pada Tuhan.
7. Kerja itu mulia, kerja adalah pelayananku, aku sanggup bekerja sempurna
Secara moral kemuliaan sejati datang dari pelayanan. Orang yang melayani adalah orang yang mulia. Pekerjaan adalah wujud pelayanan nyata bagi institusi maupun orang lain. Kita ada untuk orang lain dan orang lain ada untuk kita. Kita tidak seperti hewan yang hidup untuk dirinya sendiri. Manusia moral seharusnya mampu proaktif memikirkan dan berbuat bagi orang lain dan masyarakat. Maka kuncinya ia akan sanggup bekerja secara sempurna.
8. Kerja itu kehormatan, kerja adalah kewajibanku, aku sanggup bekerja unggul :
Sebagai kehormatan kerja memiliki lima dimensi : (1) pemberi kerja menghormati kita karena memilih sebagai penerima kerja (2) kerja memberikan kesempatan berkarya dengan kemampuan sendiri, (3) hasil karya yang baik memberi kita rasa hormat, (4) pendapatan sebagai imbalan kerja memandirikan seseorang sehingga tak lagi jadi tanggungan atau beban orang lain, (5) pendapatan bisa menanggung hidup orang lain.
Semuanya adalah kehormatan. Maka respon yang tepat adalah menjaga kehormatan itu dengan bekerja semaksimal mungkin untuk menghasilkan mutu setinggi–tingginya. Dengan unggul di segala bidang kita akan memenangkan persaingan.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Perencanaan usaha atau business plan adalah suatu dokumen yang menyatakan keyakinan akan kemampuan sebuah bisnis untuk menjual barang atau jasa dengan menghasilkan keuntungan yang memuaskan dan menarik bagi penyandang dana.
Tujuan perencanaan usaha ini adalah untuk:
Mengantisipasi ketidakpastian dan perubahan yang mungkin terjadi masa yang akan datang Agar semua perhatian dan aktifitas terpusat pada usaha
Memastikan bahwa proses pencapaian tujuan berlangsung ekonomis
Memudahkan pengawasan Sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan
Proposal bisnis berisikan deskripsi dari proyek yang akan dilakukan, pemasarannya, penelitian dan pengembangan, masalah pabrik, manajemen, resiko yang akan dihadapi, masalah finansial, sampai masalah perjadwalan waktu.
Memastikan bahwa proses pencapaian tujuan berlangsung ekonomis
Memudahkan pengawasan Sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan
Proposal bisnis berisikan deskripsi dari proyek yang akan dilakukan, pemasarannya, penelitian dan pengembangan, masalah pabrik, manajemen, resiko yang akan dihadapi, masalah finansial, sampai masalah perjadwalan waktu.
3.2 Saran
Adapun saran yang ingin disampaikan oleh penulis adalah agar setelah membaca makalah ini, sebaiknya dapat diaplikasikan sebagai peluang untuk merencanakan usaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar